Tags

, , ,

Perlukah Kampanye Besar-Besaran Dilakukan?

Luluk Azizah

sumber klik gambar

8 Juli 2009 menjadi penentuan dari hasil perjuangan tiga kandidat presiden RI dalam merebut kursi milik orang nomor satu di Indonesia. Sebuah angka keramat dilihat dari banyaknya orang dengan hati was-was dan cemas menentukan sesosok pemimpin yang kelak menjalankan pemerintahan Indonesia. Kurang dari lima menit, sekali contreng dan satu suara masuk menentukan pemimpin yang akan menentukan kehidupan banyak orang. Sekali contreng kemudian dikalikan dua ratus juta penduduk Indonesia (mengambil sebait lirik dalam lagu Rhoma Irama), maka masuklah suara-suara yang menjadi penentu kelanjutan bangsa ini. Sekali salah memilih, bisa dipastikan kehidupan bangsa ini akan ikut bermasalah dimana-mana. Maka, penting bagi pencontreng (sebutan bagi pemilih yang menggunakan hak pilihnya dengan mencontreng) untuk mengerti betul dan memahami setiap contrengan yang dibuatnya. Sekali asal contreng maka bisa-bisa pemimpin yang terpilih akan ikut asal-asalan dalam menjalankan kekuasaannya.

Kampanye

Tak kenal maka tak sayang. Ungkapan terkenal ini agaknya menjadi salah satu perhatian utama calon presiden RI (capres RI) dalam usahanya untuk meraih simpati dan dukungan dari berbagai pihak. Berbagai cara pun dilakukan demi mendapatkan apa yang mereka inginkan. Menghambur-hamburkan uang hanya untuk selebaran dan poster-poster yang kenyataannya pun kini telah menjadi sebuah ‘sampah’ di mana-mana. Hanya bertahan beberapa waktu kemudian rusak dan menghancurkan keindahan alam di sekitarnya. Bukan kampanye ‘bersih’ yang gembar-gembor dilakukan, namun kampanye tak ramah lingkungan yang justru kian marak dilaksanakan. Belum jadi pemimpin saja sudah banyak merugikan banyak hal bagaimana jika kelak terpilih menjadi pemimpin?

Sebut saja pemasangan poster di jalan raya, kadang ada beberapa selebaran, stiker, maupun poster yang ditempel di pohon. Tanpa menghiraukan keindahan dan kelestarian pohon, dengan fokus hanya kepada tujuannya dalam mencapai pendukung sebanyak-banyaknya., hal-hal yang merusak alampun dilakukan. Selain itu selebaran-selebaran yang disebarkan di sepanjang jalan (pada masa kampanye banyak juru kampanye yang membagi-bagikan selebaran) akan tampak mengotori lingkungan sekitar, apalagi jumlah kertas yang dibagi-bagikan makin mengurangi jumlah pohon yang ada di hutan kita. Bukannya menjaga agar negara ini makin bersih dan indah malah dilakukan sebaliknya.

Beralih dari masalah kampanye yang merusak lingkungan, sebenarnya sejak awal pembuatan UU No 12 Tahun 2003 tentang Pemilihan Umum Legislatif perdebatan tentang pelaksanaan kampanye dalam Pemilu 2004 dahulu memang mendapat pembahasan yang cukup panjang. Hal ini terlihat dalam pembahasan dan pemberitaan media massa.

Perdebatan terjadi bukan saja karena jadwal kampanye yang tidak beraturan, namun juga banyaknya dana dan asal dana yang dikeluarkan dalam kampanye. Dan agaknya hal ini terjadi pula dalam kampanye pemilu 2009.

Kampanye pemilu 2009 ini diperkirakan mengeluarkan dana lebih dari 3 triliun. Untuk sebuah negara yang berkembang, jumlah ini termasuk jumlah yang sangat besar. Jika ingin berlogika, mengapa jumlah sebesar ini tidak dijadikan sarana dan prasarana bersama demi kemajuan bangsa Indonesia? Agaknya seorang pemimpin yang benar-benar diidamkan rakyat tidak mungkin akan mengeluarkan dana sebanyak ini dikala banyak rakyat yang masih hidup di bawah garis kemiskinan, maish tidur di depan emperan toko dan mengais sampah demi mendapatkan sesuap nasi.

Jika seorang pemimpin dipilih oleh rakyat, mengapa mereka harus dengan gencarnya melaksanakan kampanye yang banyak didebatkan oleh masyarakat. Sejatinya seorang pemimpin adalah yang benar-benar murni dipilih rakyat karena kerjanya dan komitmennya kepada negara dan rakyat. Namun, kenyataannya mereka (pemimpin, red) justru mengajukan diri dan ‘memaksa’ masyarakat untuk memilih mereka, caranya adalah dengan besarnya kampanye yang dilakukan, iming-iming serta rayuan yang diberikan yang mungkin nanti setelah terpilih lupalah mereka kepada semua rayuan gombal semasa kampanye. Hanya gigit jari yang mungik akan dilakukan rakyat terhadap tingkah polah pemimpin yang seperti itu.

Media Massa

Media massa merupakan sebuah penghubung antara realita dengan audiencenya atau bisa juga disebut dengan mediasi atau dengan kata lain media massa mewakili panca indera kita terhadap penangkapan sebuah realita. Sejalan dengan perkembangan masyarakat Indonesia dari masyarakat industri  ke masyarakat informasi, media massa beperan penting sebagai agen perubahan tersebut. Sebagai sebuah agen, media massa agaknya dengan sempurna menjalankan fungsi dan tugasnya. Sebagai contoh, kejadian Manohara yang akhir-akhir ini menyedot banyak perhatian masyarakat seluruh Indonesia, bukan hanya masyarakat lingkungan sekitar rumah ibu Daisy Fajarina (ibunda Manohara) yang mengetahui kejadiaan itu namun sebagian besar masyarakat Indonesia dari sabang hingga Merauke banyak yang telah mengetahui kejadian yang menimpa Manohara. Ini disebabkan peran media massa yang tak henti-hentinya memberitakan kasus Manohara. Setiap waktu, di koran ataupun di televisi bermunculan wajah Manohara. Sebagai dampaknya kini, Manohara yang dulu tidak banyak dikenal masyarakat Indonesia mulai mewabah disudut-sudut tempat di Indonesia, bahkan apa yang dikenakan Manohara, banyak dijadikan komoditi. Misalnya, (saya sempat beberapa waktu lalu jalan-jalan di sebuah pasar di Malang dan menemukan kejadian ini) banyak dijual tas dan sepatu Manohara, dalihnya itu model yang sama yang seringkali dipakai Manohara. Mewabahnya virus Manohara merupakan sebuah efek dari adanya media massa. Karena media massa paling banyak membawa pengaruh terhadap pola pikir dan kehidupan masyarakat.

Melihat efek besar yang dapat ditimbulkan oleh media massa, tiga kandidat capres RI tak mau kalah memonopoli media massa agar mendukung aksinya dalam berkampanye. Siapa yang berkuasa dan mempunyai banyak uang akan memenangkan persaingan media. Bahkan cenderung bisa mengarahkan media. Walaupun azas utama media adalah objektif, tak bisa dipungkiri media lemah pada kekuatan dan kekuasaan. Tak heran jika ketiga capres tersebut berani mengeluarkan banyak uang demi mendapatkan dukungan media.

Sebagai sebuah alat pengarah massa, merupakan langkah yang tepat jikalau ketiga capres  itu saling bersaing mengiklankan diri mereka di media massa. Contoh, jingle indomie berubah menjadi jingle SBY, iklan JK dengan usaha mandirinya, megawati dengan iklan terbarunya. Hal inilah yang kemudian menjadi alat penghubung masyarakat dengan mereka (tiga captres, red) sehingga masyarakat yang tidak bertemu langsung dengan mereka sedikit lebih mengenal dengan banyaknya iklan yang dimunculkan dan semoga saja apa yang mereka lihat bukan sebuah konstruksi dan bias media massa.

Kampanye vs Media Massa

Kampanye dalam usahanya merebut hati masyarakat menjadi sebuah ajang unjuk diri bagi tiga capres untuk mempengaruhi pilihan dan pikiran masyarakat melalui media massa. Mudahnya media massa menjangkau masyarakat adalah sebuah keuntungan bagi ketiga capres tersebut. Paling tidak dengan mereka hanya diam di satu tempat, orang-orang di seluruh Indonesia mampu menyaksikannya. Inilah yang kemudian membuat mereka tidak segansegan merogoh uang banyak untuk beriklan di media massa.

Last but not least, muncul sebuah pertanyaan besar dari benak saya, perlukah kampanye besar-besaran dilakukan? Jika nanti yang terpilih hanya seorang? Bukankah yang tak terpilih hanya akan menghabiskan uang tanpa hasil apapun? Mengapa tidak ada sebuah inovasi baru untuk kampanye yang sehat, mengeluarkan sedikit dana, tapi mampu memberi pengaruh kepada masyarakat?

Semoga saja pemilu 5 tahun ke depan mampu menciptakan sebuah inovasi baru agar kampanye yang dilakukan tidak hanya sekedar mengahmbur-hamburkan dana bahkan walaupun dana itu milik pribadi. Takutnya nanti setelah tidak terpilih akan muncul penghuni-penghuni baru di Rumah Sakit Jiwa karena terlalu stres akibat banyaknya uang yang dikeluarkan namun tidak ada hasilnya sedikitpun. Sejatinya Indonesia membutuhkan pemimpin yang merakyat, yang mampu mengangkat rakyat dari kemiskinan dan kesusahan serta mampu membawa rakyat ke dalam kesejahteraan bukan hanya pemimpin yang banyak uang dan banyak janji. Toh, kalaupun sekedar memberi janji, tukang becak sekalipun bisa melakukannya.

*Kalau gak salah ini artikel terbit di Kronik Kampus pada tahun 2009 (*lupa edisi berapa), tapi kalau gak salah lagi ini artikel muncul menandai akhir perjalanan saya dan staff saya di Ketawanggede periode 2009-2010