Tags

, , , ,

Ospek : Dari Dulu hingga (impian) Ke depan

– Luluk Azizah –

 

Ospek Universitas Brawijaya

 

 

Tentang Ospek dan Perploncoan

Sebenarnya, Ospek yang dalam artian perploncoan itu bermula dari Universitas Cambridge, Inggris. Mahasiwa di universitas ini mayoritas berasal dari keluarga bangsawan. Karena berasal dari strata sosial yang tinggi dan terhormat, mereka biasanya bertindak liar dan tidak mengindahkan peraturan. Oleh sebab itu, pihak universitas mengadakan perombakan besar. Setiap mahasiswa yang masuk, harus melewati tahap perploncoan. Hal ini ditujukan sebagai pembelajaran bagi mereka agar tidak bertingkah liar dan patuh pada peraturan.

Di Indonesia, tradisi itu masuk sekitar tahun 1950-an. Ketika itu, telah muncul berbagai protes menentang perpeloncoan yang tidak manusiawi. Misalnya, nama Hutajulu dan kawan-kawan yang mencuat di kalangan mahasiswa yang kala  itu  memimpin aksi menentang perpeloncoan di Kampus UGM Yogyakarta. Di Universitas Cendrawasih, sejumlah mahasiswa juga menentang aksi perpeloncoan yang kerap menimbulkan cidera.

Ospek sebenarnya telah dilarang. Berdasarkan SK Menteri P&K No. 043/1971, Mapram (nama Ospek tempo dulu) ternyata telah dihapus. Tepatnya pasca kasus penyiraman soda api terhadap 19 dari 424 mahasiswa baru di ITSSurabaya. Peristiwa ini justru menunjukkan “kelemahan intelektual” bagi pengelola pendidikan di Indonesia. Namun sayangnya, hal ini tidak diindahkan oleh sebagian pihak penyelenggara Ospek. Buktinya hingga tahun 2009 kemarin, banyak kasus yang menimpa mahasiwa baru berkaitan dengan tradisi perploncoan itu.

Sebut saja kasus Wisnu Anjar Kusumo, mahasiswa baru Sekolah Tinggi Sandi Negara (STSN) di Bogor September lalu yang diduga tewas karena dianiaya seniornya saat Ospek. Agaknya, Ospek perploncoan yang awalnya ditujukan sebagai pembelajaran agar mahasiswa mematuhi peraturan dan tidak bertindak liar kini lepas kendali hingga mampu mencabut nyawa mahasiswa baru.

 

Ospek dan Sistem Pendidikan

Meskipun telah menjadi ritual wajib setiap kali menyambut mahasiswa baru, tidak pernah sekalipun Ospek disinggung dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan Peraturan Pemerintah No 30/1990 tentang Pendidikan Tinggi. Artinya, Ospek memang tidak menjadi bagian strategis penting proses pendidikan. Aturan-aturan yang mengikatnya hanya setingkatsuratedaran atausuratkeputusan menteri.

Dengan kata lain, Ospek bukanlah hal wajib yang harus dilakukan setiap tahunnya dalam menyambut mahasiswa baru. Namun, Ospek telah menjadi satu agenda wajib dalam sebagian besar perguruan tinggi di Indonesia. Untuk menghindari serangkaian tindakan kriminal dan bau – bau kekerasan. Alangkah baiknya jika pemerintah menerapkan Undang – undang tentang Ospek. Minimal, larangan tentang tindak kekerasan atau hal – hal yang menjurus kesanadalam kegiatan Ospek.

Sebenarnya, untuk menghilangkan image itu, Ospek telah banyak berganti nama. Namun, bayangan kelam masih terus membayangi dan mengikuti kegiatan itu. Perlu adanya perubahan peraturan dalam setiap universitas agar ospek yang dijalankan bisa sehat. Tentunya, pihak yang menjalankan ospek (dalam hal ini berarti panitia ospek) harus benar – benar diawasi dengan ketat agar tidak terjadi hal – hal yang tidak diinginkan.

Ospek Baru yang Diidam – idamkan

Ospek akan sulit dihapuskan, karena dia (Ospek) sudah mendarah daging dan menjadi satu ritual wajib dalam sebuah perguruan tinggi. Akan menjadi sangat janggal dan kurang “bercerita” jika mahasiswa baru masuk tanpa diospek. Namun, Ospek yang sehatlah yang seharusnya diterapkan.

Ospek ditujukan agar mahasiswa baru menghormati yang senior, mematuhi peraturan, serta dididik dan dilatih dengan kegiatan selama Ospek sebagai simulasi kegiatan perkuliahan yang akan ditempuh. Namun, semua itu akan lebih baik jika dilakukan dengan suasana yang menyenangkan.

Misalnya saja, diadakan kegiatan lomba antar mahasiswa baru dengan senior. Terjun ke masyarakat dengan melakukan outbond, dan diakhiri dengan pesta inaugurasi. Selain akan mewujudkan keakraban antar mahasiswa baru dengan seniornya, melatih team work, akan membentuk pula jiwa peduli sesama.

*referensi diambil dari berbagai sumber online

*Yang ini aku buat saat Magang di Global TV. Saat itu jaman-jamannya Ospek di UB dan tentunya jaman-jamannya Jurnal PKK Maba. Artinya, kerja lembur bagi anak-anak Kavling 10 buat nerbitin tepat waktu tiap hari Ospek. Soalnya nih Jurnal khusus berita tentang Ospek dan nantinya setelah Ospek berakhir tiap harinya, panitia Jurnal PKK Maba selalu udah standby di asing-masing gerbang UB buat ngasihin tuh jurnal. SAYANGNYA, Gak semua maba mau nerima. Masalahnya sih nasihat panitia ospek tiap fakultas yang berisi “Jangan Menerima Selebaran Apapun!” plis deh, padahal kita punya bukan selebaran, tapi seeksemplar jurnal PKK Maba yang ada LOGO UB nya plus udah dapat persetujuan dari Rektorat. Masih juga ditolak. Ada yang ambil trus di buang gitu aja. Ngenes. Padahal kita bikinnya susah-susah, ditolak panitia, diusir sana sini. Gak istirahat sama sekali. #pengorbanan.