Tags

,

“Mak, aku berangkat!”

Teguh mengecup tangan keriput milik Emaknya. Tekadnya sudah bulat. Sampai cincin itu melingkar lagi di tangan keriput Emaknya, Teguh tidak akan pernah berhenti berusaha. Ini salahnya, dan untuk menebus kesalahannya ini, apapun harus dilakukannya. Meski, harus mempertaruhkan separuh nyawanya.

Meski peluhku membanjiri tubuh ini dan meski kakiku sudah letih untuk menyangga tubuh ini, aku janji sama Emak, kalau aku gak bisa bawain Emak cincin itu, aku gak akan kembali. Teguh berlari,keluar dari gubuk tempatnya tinggal dan berlari semakin jauh dari rumahnya.

Kemaren, Teguh tanpa sengaja menabrakkan motor ojeknya yang ia pinjam dari Bang Maun, sang juragan di desanya. Mau tak mau, ia harus menanggung biaya perawatan motor itu. Gak banyak yang rusak, hanya spion sebelah kanan yang hancur. Untuk memperbaikinya, teguh terpaksa menggadaikan cincin Emaknya, satu-satunya milik Emaknya hadiah dari Almarhum Bapak.

Sebenarnya Emak sama sekali tak pernah meminta Teguh untuk menggembalikan cincin itu, biarlah cincin itu dijual untuk memperbaiki motor Bang Maun, itulah satu-satunya cara agar Teguh bisa ngojek lagi, mencari beberapa lembar rupiah untuk makannya bersama dengan Emak. Namun Teguh masih merasa bersalah. Ia tak pernah mau membuat Emaknya kehilangan satu-satunya pemberian Bapak yang tersisa. Teguh tak ingin menghilangkan satu-satunya kenangan terindah dari Bapak untuk Emak.

→♦←

“Maaakkk….. !!!!”

Teguh berlarian menuju ke dapur untuk menemui Emaknya. Di depan sebuah tungku, Emak duduk di sebuah bangku kayu kecil, tepat di depan perapian.

“Mana tangan Emak?” tanya Teguh. Peluh menetes di dahinya, nafasnyapun terdengar tak beraturan.

“Ada apa to, Le*?” dahi Emak semakin mengerut saat iai melihat anak semata wayangnya itu memberondong kepadanya dengan pertanyaan yang aneh.

“Tangan, Mak… Tangan Emak, mana??” Teguh mengulang pertanyaannya sambil menengadahkan tangannya, meminta tangan Emak untuk menggapainya. Meski masih bingung, Emak menuruti uluran tangan anaknya itu. Diberikannya tangan kanannya dan diletakkannya di atas telapak tangan Teguh.

“Ini… janji Teguh sudah Teguh penuhin.” Teguh melingkarkan sebuah cincin di jari manis Emaknya. Emak terperanjat, perlahan air matanya menetes tak tertahankan.

“Kamu dapat uang darimana, Le?” tanya Emak sambil membelai Teguh dengan penuh sayang.

“Teguh ikutan nganter barang sama Abah Ucup, Mak. Dan Alhamdulillah, barang yang diantar hari ini banyak banget, jadi Teguh bisa ambil cincin Emak yang digadai kemaren.”

“Emak kan sudah bilang ke kamu, cincin ini dijual saja. Emak ikhlas kok, asal kamu enggak kehilangan ojekanmu.”

“Teguh tau, Mak. Tapi ini kan kenangan satu-satunya dari Bapak. Teguh enggak mau ambil kenangan manis Emak sama Bapak. Teguh masih bisa ngojek kok, Mak. Jadi, Emak tenang saja!”

“Kenangan dari Bapak yang paling indah itu  ya kamu, Le…. bukan cincin, bukan juga harta yang lainnya.” ucap Emak sambil membelai kepala Teguh.

“Kalau kamu bisa selalu sama Emak, Emak udah sangat bahagia. Gak perlu harta yang banyak, asal kamu sayang dan selalu ada di sisi Emak, itu lebih dari segala yang Emak inginkan di dunia ini.”

Teguh menangis. Baru kali ini ia menangis. Sesegukan selayaknya anak kecil yang diambil mainannya. Dipeluknya Emaknya itu dengan erat. Ia berjanji, selama ia masih bisa bernafas, ia tidak akan pernah mengecewakan Emaknya. Dan sampai kapanpun juga, ia tak akan pernah beranjak dari sisi Emaknya. (LA)

*Le, sebutan untuk anak laki-laki (Tole)