“SUDAH AKU BILANG KITA SELESAI!!!”

Rani berlari sekuat tenaga meninggalkan Dana yang terpaku menatap kepergiannya. Ditatapnya tunangannya itu hingga sosoknya hilang di balik rimbunnya pepohonan, sore itu di taman Rani tak sengaja melihat Dana berepelukan dengan seorang wanita. Semua salah paham, dan Dana akan menceritakan semuanya pada Rani. Namun, ternyata apa yang Dana inginkan tak seperti yang terjadi. Rani meninggalkannya, sendiri dengan penyesalan yang tak mungkin akan berakhir.

Dulu sekali Rani dan Tania bersahabat, tapi persahabatan mereka telah retak 3 tahun yang lalu sejak Dana memilih Rani dan menolak cinta Tania. Sejak itulah Tania memutuskan hubungannya dengan Rani. Sekalipun mereka tak pernah bertemu atau bertegur sapa lagi hingga hari ini. Saat Rani secara tak sengaja mendapati Tania berada di pelukan Dana, tunangannya.

“Apa-apaan ini?” teriak Rani. Saat itu tak ada siapapun juga di lorong parkiran kantor Dana, kecuali Tania yang kala itu berada dalam dekapan Dana.

ā†’ā™¦ā†

Dana terperangah mendapati tunangannya berada di hadapannya. Berkobar api kemarahan yang bahkan dia sendiripun takut untuk sekedar menatap wajahnya.

“Semua tidak seperti yang kamu pikirkan, Ran.” Dana tergopoh-gopoh mendekati Rani. Menggenggam tanggannya serta berusaha menenangkan hati wanita itu.

Rani tak bergeming. Wajahnya memerah melihat sosok Tania di hadapannya yang tersenyum sinis.

“Apa yang kau lakukan?” suara Rani berat, ia menatap tajam mantan sahabatnya itu.

“Hanya sedikit melepas rindu.” jawab Tania tanpa beban

“Tania…!” Dana terperanggah dengan jawaban Tania yang tanpa pemikiran itu.

“Kau seharusnya bilang kalau apa yang terjadi tadi…”

“Seperti yang kamu lihat, Ran…. itu yang terjadi… Dan asal kamu tahu… aku dan Dana saling merindu satu sama lain.”

Belum selesai Dana memberikan pembelaan, Tania lebih dahulu menyerang dengan alasan yang entah darimana ia dapatkan.

Mata Rani memerah…tangannya mengepal. Amarahnya benar-benar telah memuncak. Dana yang kini berada di sampingnya menyadari Rani telah terperangkap kata-kata Tania.

“Oke….aku berikan dia untukmu!”

Dana terperanjat. Kata-kata itu keluar dari mulut Rani, tunangannya yang 1 bulan lagi akan menjadi istrinya. Apa-apaan ini? Dana mengalihkan pandangannya, Tania masih tersenyum sinis, kali ini makin melebar.

Rani hendak meninggalkan mereka saat tangan Dana yang kuat mencengkeram lengannya. Mata mereka beradu. Dana masih merasakan amarah yang besar di mata wanitanya itu.

“Tidak seperti yang kamu bayangkan, Ran… Kamu tahu semua isi hatiku. Bagaimana mungkin kamu menyerah seperti ini. Bagaimana mungkin kamu menyerahkan aku pada Tania?” pelan-pelan Dana mencoba menjelaskan beban di hatinya.

“Aku tahu sejak dulu kalau kalian saling mencintai. Hanya karena aku, yang saat itu tak bisa jauh darimu, yang saat itu benar-benar hanya membutuhkanmu, kau rela melepaskan Tania dan memilih di sisiku…”

Dana terperangah. Tania yang sedari tadi hanya menonton pertunjukkan itupun ikut terperanjat.

“Aku selalu melihatmu duduk menatap liontin antikmu itu, kau tak tahu kan…aku tahu pemilik liontin itu. Tania memilikinya sejak ia kecil. Dia sering menunjukkannya padaku. Dan akupun tahu kalau dia memberikanmu liontin itu setelah kau memilihku.”

“Aku sudah letih berpura-pura melihatmu seolah-olah kau mencintaiku. Aku letih tiap kali melihatmu memandangi liontin itu dengan penuh cinta. Aku letih harus pura-pura bahagia sementara kau dan Tania terluka karena aku. Aku ingin menyudahinya. Aku kembalikan cinta kalian. Aku kembalikan waktu kalian yang hilang karena aku. Dana… kita selesai”

Kali ini Dana dan Tania tak berkutik. Dana selama ini tak pernah mengetahui diam-diam Rani memperhatikannya. Sementara Tania tak pernah mengerti bahwa Dana meninggalkannya bukan karena tak mencintainya.

“Rani…. dengar semua penjelasanku!”

Tangan Dana masih mencengkeram pergelangan tangan Rani, namun wanita itu kini mampu melepaskan diri.

“SUDAH AKU BILANG KITA SELESAI!!!”

Dana pun makin menyesal. Kenapa ia tak pernah mengetahui apa yang diketahui Rani tentang dirinya. Dia memang mencintai Tania, sejak dulu bahkan hingga hari ini. Namun, tiba-tiba semua berubah, saat dilihatnya Rani pergi meninggalkannya, hatinya terasa amat sakit. Bahkan sakit ini jauh lebih terasa menyiksa dari saat Tania pergi meninggalkannya. Apakah artinya ini?

Dana terduduk lemas. Air matanya tiba-tiba menetes. Rani meninggalkannya, di saat ia justru tak ingin dia pergi. Tania mendekat, menepuk bahu Dana, berlutut di sampingnya dan merangkulnya.

“Aku tak tahu kau masih mencintaiku.” bisik Tania

“Memang… aku masih mencintaimu. Namun, hatiku sakit saat Rani pergi. Aku rasa aku tak sanggup melihatnya meninggalkanku sendiri.” gumam Dana.

Tania tersentak, dilepaskannya tangannya dari pundak Dana secara spontan.

“Apa maksudmu?” tanya Tania

“Yah…aku rasa memang aku tak sanggup berpisah dengannya.” jawab Dana mantap. Ia berdiri dan berlari meninggalkan Tania. Ia berlari sekuat tenaga, mengejar wanita yang baru ia sadar sangat dibutuhkannya untuk hidup. Rani.

“Tunggu aku, Ran… aku akan buktikan padamu hanya kaulah yang kini ada di hatiku!” (LA)